Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mudah Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dan Efisien

DAPODIK.co.id - Cara Mudah Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dan Efisien. Setiap guru masuk ke dalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran adalah usaha membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat satuan pembelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi, dan masih banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

 

Semisalnya, memberi penguat, mengembangkan hubungan guru-anak didik, membuat aturan kelompok yang produktif. Kadang-kadang sukar untuk dapat membedakan mana masalah pengajaran dan mana masalah manajemen. Masalah pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran, dan masalah pengelola kelas dibatasi dengan cara pengelolaan. Pengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya adalah, penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.

 

Sebaliknya masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif.Di kelas, segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya, kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan pokok bahasannya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknya kelas dikelola dengan baik, professional, dan berlangsung terus-menerus. Masalah yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Hal tersebut dikarenakan bahwa dalam sutu kelas para peserta didik adalah merupakan makhluk social yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, biologis. Ketiga aspek dan tingkah laku anak didik di sekolah.

 

Berangkat dari permasalahan diatas, admin dapodik.co.id mengangkat masalah mengenai pengelolaan kelas dalam pembelajaran agar guru mengetahui dan memahami tentang pentingnya pengelolaan kelas yang baik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.

 

Cara Mudah Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dan Efisien

 

Cara Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dan Efisien

Pengertian dan Tujuan Pengelolaan Kelas

 

Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

 

Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar. Dalam konteks yang demikian itulah kiranya pengelolaan kelas penting untuk diketahui oleh siapa pun juga yang menerjunkan dirinya ke dalam dunia pendidikan. Maka adalah penting untuk mengetahui pengertian pengelolaan kelas dalam hal ini. Pengelola kelas terdiri dari dua kata yaitu pengelola dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah ‘kelola’, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya berasal dari bahasa inggris, yaitu management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelola. Manajemen atau pengelolaan dalam pengertian umum menurut Suharsimi Arikunto (1990) adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan.

 

Sedangkan kelas yaitu sekelompok peserta didik pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran.


Pengelola kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan. Karena ada tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas, walaupun terkadang kelelahan fisik maupun pikiran dirasakan.


Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar peserta didik dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas.

 

Suharsimi Arikunto (1988) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:

1.    Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.

2.    Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.

 

Berbagai Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas


Keharmonisan hubungan guru dengan peserta didik, tingginya kerja sama diantara peserta didik tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.

 

Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:

1.    Pendekatan Kekuasaan
Pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkat laku anak didik. Peranan guru di sini adalah menciptakan dan mempartahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.

2.    Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkat laku anak didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindirian, dan memaksa.

3.    Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peran guru adalah mengusahakan semaksimal mungkn kebebasan anak didik.

4.    Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar ini digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peran guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

5.    Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanakan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peran guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.

6.    Pendekatan Perubahan Tingkat Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Untuk itu menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasanaan senang dan puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dan melaksanakan program kelas harus diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.

7.    Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial
Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana social di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi kliniks dan konseling. Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan social yang positif. Suasana emosional dan hubungan social yang positif, artinya ada hubungan yang baik yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta didik, atau antara anak didik dengan anak didik.

8.    Pendekatan Proses Kelompok
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem social, di mana proses kelompok merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan agar perkembangkan dan pelaksanaan proses kelompok yang efektif. Proses kelompok adalah usaha guru mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar.

9.   Pendekatan Elektis atau Pluralistik.

Pendekatan elektis ini menekankan pada potensialitas, kretivitas dan inisiatif wali/guru kelas dalam memilih beragai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis di sebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien.

 

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

 

1.    Hangat dan Antusias Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.

2.    Tantangan Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. Tambahan lagi, akan dapat menarik perhatian anak didik dan dapat mengendalikan gairah belajar mengajar.

3.    Bervariasi Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan munculnya gangguan apa yang disebutkan diatas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.

4.    Keluwesan Keluwesan tingkah laku untuk mengubah strategi mengajarnya dan mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajar dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan anak didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya.

5.    Pendekatan pada hal-hal yang PositifPada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal yang positif, yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

6.     Penanaman Disiplin DiriTujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaliknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.

 

Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

 

1.    Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat Preventif)Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengembalikan inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:

a.  Sikap Tanggap
b.  Membagi Perhatian
c.  Pemusatan Perhatian Kelompok

2.    Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan Kondisi Belajar yang Optimal Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan anggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik, untuk membantu mengatasinya.

 

Penataan Ruang Kelas


Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan/penataan ruang kelas belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu peserta didik dalam belajar.

1.    Pengaturan Tempat DudukBentuk dan ukran tempat duduk yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat dudukdapat diduduki oleh bebrapa orang, ada pula yang hanya dapat diduduki oleh seorang peserta didik. Sebaiknya tempat duduk peserta didik itu ukurannya jangan terlalu besar agar mudah diubah-ubah formasinya. Ada beberapa bentuk formasi tempat duduk yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Apabila pengajaran itu akan ditempuh dengan cara berdiskusi, maka formasi tempat duduknya sebaiknya berbentuk melingkar. Jika pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, maka tempat duduknya sebaiknya memanjang ke belakang. Sudirman N (1991) mengemukakan beberapa contoh tempat duduk, yaitu posisi berhadapan, posisi setengah lingkaran dan posisi berbaris ke belakang.

2.    Pengaturan Alat-Alat PengajaranDi antara alat-alat pengajaran di kelas yang harus diatur adalah sebagai berikut:

a.   Perpustakaan kelas.

b.   Alat-alat peraga media pembelajaran.

c.   Papan tulis, kapur tulis, dan lain-lain.

d.   Papan presensi peserta didik.

e.   Penata keindahan dan kebersihan kelas.

F.   Pengaturan peserta didik.


Di depan telah di uraikan mengenai pengaturan tempat duduk 
peserta didik dengan formasi yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Masalahan pengaturan tempat duduk itu sebenarnya akan berhubungan dengan permasalahan peserta didik sebagai individu dengan perbedaan pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Abu Ahmadi dan widodo Supriyono (1991) melihat peserta didik sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya. Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadaian peserta didik, berguna dalam membantu usaha pengaturan peserta didik di kelas. Terutama berhubungan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan peserta didik guna menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat bertahan dalam waktu yang relative lama. Kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan kelompok menghendaki peninjauan pada aspek individual peserta didik.

 

Penempatan peserta didik memerlukan pertimbangan pada aspek postur tubuh peserta didik, di mana menempatkan peserta didik yang mempunyai tubuh tinggi atau rendah, di mana menempatkan peserta didik yang memiliki kelainan penglihatan atau pendengaran, jenis kelaminan peserta didik perlu juga dijadikan pertimbangan dalam pengelompkan peserta didik. Peserta didik yang cerdas, yang bodoh, yang pendiam, yang lincah, dan suka berbicara, suka membuat keributan, yang suka mengganggu temannya, dan sebagainya. Sebaiknya dipisah agar kelompok tidak dominasi oleh satu kelompok tertentu, agar persaingan dalam belajar berjalan seimbang.

 

Pengelolaan Kelas yang Efektif


Bila kelas diberikan batasan sebagai sekelompok orang yang belajar bersama, yang mendapatkan pengajaran dari guru, maka di dalamnya terdapat orang-orang yang melakukan kegiatan belajar dengan karakteristik meraka masing-masing yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya.Perbedaan ini perlu guru pahami agar mudah dalam melakukan pengelolaan kelas secara efektif.

 

Menurut Made Pidarta untuk mengelola kelas secara efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1.    Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu,yang dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.

2.    Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu pada waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok.

3.    Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku masing-masing individu dalam kelompok itu. Kelompok mempengaruhi individu-individu dalam hal bagaimana mereka memandang dirinya masing-masing dan bagaimana belajar.

4.    Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota-anggota. Pengaruh yang jelek dapat dibatasi oleh usaha guru dalam membimbing mereka di kelas di kala belajar.

5.    Praktik guru waktu belajar cendrung terpusat pada hubungan guru dan peserta didik. Makin meningkat keterampilan guru mengelola secara kelompok, makin puas anggota-anggota di dalam kelas.

6.    Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.Ditambahkannya lagi, bahwa organisasi kelas tidak hanya berfungsi sebagai dasar terciptanya interaksi guru dan siswa, tetapi juga menambah terciptannya efektivitas, yaitu interaksi yang bersifat kelompok.

Dari hasil riset telah disimpulkan beberapa variable masalah yang diperhatikan untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif, sebagai berikut:

a.    Bila situasi kelas memungkinkan anak-anak belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.
b.    Manajemen kelas harus memberikan fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan kerja sama.
c.    Anggota-anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam mengambil keputusan yang member efek kepada hubungan dan kondisi belajar/kerja.
d.   Anggota-anggota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbangan, ketegangan, dan perasan tertekan.
e.    Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.

Keharmonisan hubungan guru dan peserta didik mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas. Guru yang apatis terhadap peserta didik membuat siswa menjauhinya. Peserta didik lebih banyak menolak kehadiran guru. Rasa benci yang tertanam di dalam diri peserta didik menyebabkan bahan pelajaran sukar diterima dengan baik. Kecendrungan sikap peserta didik yang negative lebih dominan. Sifat kemunafikan ini menciptakan jurang pemisahan antara guru dan peserta didik. Lain halnya dengan guru yang selalu memperhatikan peserta didik, selalu terbuka, selalu tanggap keluhan siswa, selalu mau mendengarkan saran dan kritikan dari peserta didik, dan sebagainya, adalah guru yang disenangi oleh peserta didik. Peserta didik rindu akan kehadirannya, siswa senang mendengarkan nasihatnya, peserta didik merasa aman di sisinya, peserta didik senang belajar bersamanya, dan peserta didik merasa bahwa dirinya adalah bagian dari diri guru tersebut.Itulah figure seorang guru yang baik. Figur guru yang demikian biasanya akan kurang menemui kesulitan dalam mengelola kelas.

 

Thomos Gordon (1990) mengatakan bahwa huubungan guru dan peserta didik dikatakan baik apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1.    Keterbukaan, sehingga baik guru maupun siswa saling bersikap jujur dan terbuka diri satu sama lain.

2.    Tanggapan bilamana seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang lain.

3.    Saling Ketergantungan, antara satu dengan yang lain.

4.    Kebebasan, yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan mengembangkan keunikannya, kreativitasnya, dan kepribadiannya.

5.    Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak terpenuhi.

Bila begitu pengelolaan kelas yang efektif, maka itu berarti tugas yang berat bagi guru adalah berusaha menghilangkan atau memperkecil permasalahan-permasalahan yang terkait dengan semua problem pengelolaan kelas, seperti kurangnya kesatuan, tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, reaksi negative terhadap anggota kelompok, moral rendah, kelas mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, dan sebagainya.

 

Pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas bertujuan menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas.

 

Agar dapat mengelola kelas secara efektif perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1.    Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu,yang dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.

2.    Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu pada waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok.

3.    Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku masing-masing individu dalam kelompok itu.

4.    Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota-anggota.

5.    Praktik guru waktu belajar cendrung terpusat pada hubungan guru dan peserta didik.

6.    Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.

 

Demikian Artikel Terbaru Tentang Cara Mudah Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dan Efisien. Semoga ada manfaatnya, terima kasih.

 

Jika artikel ini kurang jelas dan mungkin masih ada pertanyaan, anda bisa tanyakan pada kolom komentar yang tersedia di akhir postingan ini. Untuk dapat mengikuti berita terbaru dan mendapatkan notifikasi silahkan follow akun www.dapodik.co.id ini. Karena akan menyajikan berita terbaru dan terpopuler di dunia pendidikan.


Posting Komentar untuk "Cara Mudah Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dan Efisien"